Sell your ad space with BidVertiser
Follow me on Academia.edu
Loading

Recent Posts

Statistik Rumah Sakit

Statistik - Statistics

Pengertian Statistik - statistics

Sekumpulan data bersifat numerik dan kategorikal, yang melukiskan atau menggambarkan suatu persoalan.

Rumah Sakit - Hospital

Organisasi unik industri pelayanan kesehatan multi dimensi meliputi jasa pelayanan : profesi medis dengan dukungan peralatan pemeriksaan kesehatan, customer service, pengadaan barang, logistik, Gizi, laundry, dan keperluan akomodasi lainnya.

Pengertian Statistik Rumah Sakit - Hospital Statistics

Informasi hasil pengolahan data operasional dan pengetahuan kinerja pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Tujuan mempelajari Statistik Rumah Sakit - hospital statistics

*     Mengetahui alasan pasien datang berobat
*     Biaya yang dibutuhkan untuk pelayanan terhadap pasien
*     Kualitas pelayanan yang diberikan
*     Berbagai informasi kebutuhan akreditasi
*     Berbagai informasi kebutuhan penanggung biaya pasien
*     Penentuan prioritas pelayanan
*     Mengelola pelayanan dokter spesialis

statistik rumah sakit mortalitas morbiditasKegunaan Eksternal Informasi Statistik Rumah Sakit

*     Penentuan besaran masalah kesehatan
*     Penentuan prioritas masalah
*     Membuat perencanaan program kesehatan
*     Mengadakan evaluasi pelaksanaan program kesehatan
*     Dokumentasi perbandingan periode masa datang
*     Bahan penelitian penguji kebenaran tentang masalah kesehatan yang belum diketahui
*     Bahan penerangan tentang kesehatan kepada masyarakat

Kegunaan Internal Informasi Statistik Rumah Sakit

*     Perencanaan, pemantauan pendapatan dan pengeluaran dari pasien
*     Pemantauan Kinerja Medis
*     Pemantauan kinerja Non Medis

Statistik Rumah Sakit, dibutuhkan oleh

*     Manajemen Rumah Sakit
*     Unit Keperawatan
*     Organisasi pelayanan kesehatan lain
*     Unit Pengelola obat dan alkohol
*     Penelitian pelayanan kesehatan
*     Lembaga pendidikan tenaga kesehatan
*     Badan pengelola akreditasi
*     Pemerintah

Pengumpulan Data

Jenis Data

*     data rutin
*     data temporer - ad hoc
*     data intern
*     data ekstern primer (langsung dari sumber data)
*     data ekstern sekunder (sudah tersedia)
*     data individu (satu subyek)
*     data agregat (berkelompok)
*     data berpasangan - dependen (repeated measure)

Persyaratan data

*     Reliable - data dapat dipercaya : obyektif sesuai kenyataan, representatif - mewakili
*     Data memiliki manfaat : tepat waktu
*     Data relevan : harus sesuai dengan variable yang diukur
*     Data memiliki validitas dan reliabilitas

Skala Pengukuran

*     Nominal : data kualitatif (kategorikal)
*     Ordinal : Data kuantitatif (kategorikal)
*     Interval : Data kuantitatif (numerik)
*     Rasio : Data kuantitatif (numerik)

Metode pengumpulan data

*     Sensus (populis - bersifat terus menerus)
*     Survey (sample - temporer)
*     Observasi / pengamatan
*     Interview / wawancara
*     Kuesiner
*     Dokumenter
*     Tes / Pengujian
*     Sampling

Sumber Data Kesehatan di Indonesia

Sensus Penduduk

Dilakukan 10 tahun sekali, dipergunakan sebagai keperluan monitoring dan evaluasi terhadap kemajuan program kesehatan, perumahan, pendidikan dan lain-lain.

National Socio - Economic Survey

Dipergunakan sebagai keperluan monitoring status kesehatan, angka fertilitas, angka kriminalitas, perumahan dan lingkungan hidup.

Intercensal Population Survey

Dilakukan 10 tahun sekali diantara dua sensus penduduk, dipergunakan sebagai keperluan estimasi jumlah penduduk, angka kelahiran, angka kematian, morbiditas penduduk, serta keadaan sosio-ekonomi penduduk.

Food Balance Sheet

Dipergunakan untuk mengetahui pola konsumsi pangan penduduk, kebutuhan konsumsi pangan per kapita, distribusi pangan untuk keperluan, ekspor, impor, industri dan domestik.

National Household Healh Survey

Dipergunakan untuk mengetahui data dan informasi mengenai status kesehatan masyarakat meliputi angka kematian kesakitan, fertilitas, kehamilan, fasilitas kesehatan, status gizi anak dan ibu hamil, lingkungan hidup, dan lain-lain.

Epidemic and Communicable Diaseases Report

Dipergunakan untuk mengetahui beberapa penyakit menular yang berifat epidemik, dan sewaktu-waktu dapat menimbulkan wabah penyakit di masyarakat.

Hospital Recording System

Dipergunakan untuk mengetahui data terakhir serta informasi mengenai kegiatan pelayanan, dan fisilitas rumah sakit pemerintah dan swasta di Indonesia.

Healthy Manpower Recording and Reporting System

Dipergunakan untuk mengetahui data mengenai jumlah tenaga kerja kesehatan, jumlah sekolah kesehatan dan siswanya, serta mengenai kegiatan pelatihan atau kursus kesehatan.

Consortium of Health Science

Dipergunakan untuk mengetahui data mengenai jumlah fakultas kedokteran dan alumni dokter, untuk perencanaan penempatan tenaga dokter dan pengembangan pendidikan kedokteran.

Penyajian Data

Ada dua kelompok penyajian data

*     Tabel atau Daftar.
*     Grafik atau Diagram.

Tabel atau Daftar

*     Jenis Baris Kolom
*     Jenis Kontingensi
*     Jenis Distribusi Frekwensi

Contoh Tabel - Baris Kolom
contoh statistik tabel baris kolom

Contoh Tabel - Kontingensi
contoh statistik tabel kontingensi

Contoh Tabel - Distribusi Frekwensi
contoh statistik distribusi frekwensi

Grafik atau Diagram

*     Jenis Diagram Batang
*     Jenis Histogram dan Poligon Frekwensi
*     Jenis Diagram Garis
*     Jenis Diagram Linkaran atau Diagram Pastel
*     Jenis Giagram Lambang
*     Jenis Diagram Peta atau Kartogram
*     Jenis Diagram Pencar atau Diagram Titik

Contoh Diagram Batang
contoh statistik diagram batang

Contoh Diagram Garis
contoh statistik diagram garis

Contoh Diagram Lingkaran
contoh statistik diagram lingkaran

Contoh Diagram Pastel
contoh statistik diagram pastel

Contoh Diagram Lambang
contoh statistik diagram lambang

Contoh Diagram Peta atau Kartogram
contoh statistik diagram peta kartogram

Contoh Diagram Titik
contoh statistik diagram titik

Pengolahan Data

Memeriksa Data (Editing)

Melakukan koreksi akurasi data yang telah dikumpulkan.

Pemberian Kode

Semua variable data klasifikasi, diberi kode, misal 1 untuk jenis kelamin pria, dan 2 untuk jenis kelamin wanita.

Penyusunan Data atau Tabulasi

Merupakan kegiatan pengelompokan data sedemikian rupa, agar mudah dijumlah, disusun, ditata untuk disajukan dan dianalisa. Proses tabulasi dapat dilakukan dengan cara: metode tally, menggunakan kartu, menggunakan komputer.

Proses pengolahan Rekam Medis

Perakitan (assembling) Rekam Medis

*     Rekam medis rawat jalan
*     Rekam medsi rawat inap
*     Rekam medis rawat inap kasus bedah
*     Rekam medis rawat inap kasus kebidanan
*     Rekam medis rawat inap kasus bayi lahir

Pemberian kode (Coding)

Kode penyakit menggunakan ICD-10. Kecepatan dan ketepatan pemberian kode suatu diagnosis sangat tergantung kemampuan tenaga medis dalam menetapkan diagnosis, tenaga rekam medis sebagai pemberi kode dan tenaga kesehatan lainnya.

Tabulasi (Indexing)

Tabulasi atau peng-indeks-an bisa dilakukan menggunakan kartu indeks atau komputerisasi, seperti indeks pasien, indeks penyakit atau diagnosis, indeks pemakaian obat, indeks dokter, indeks kematian, dan lain-lain.

Analisa Data

Analisa mutu rekam medis

*     Kuantitatif : pemeriksaan kelengkapan jumlah lembaran
*     Kualitatif : pemeriksaan kelengkapan pengisian

Analisa mortalitas

*     Net angka kematian (Net Death Rate - NDR)
*     Gross angka kematian (Gross Death Rate - GDR)
*     Angka kematian Obstetrik (Maternal Death Rate - MDR)

       misal :
              Jumlah total pasien meninggal = 5
              Jumlah pasien meningal < 48 jam = 2
              Jumlah pasien meninggal pasca aborsi = 1
              Jumlah pasien keluar pasca melahirkan = 70
              Jumlah pasien keluar = 400
       maka :
              NDR = ((5 - 2) / (400 - 2)) * 100% = 0,75%
              GDR = (4 / 400) * 100% = 1,25%
              MDR = (1 / 200) * 100% = 0,005%

*     Angka Kematian Bayi (Infant Death Rate)
*     Angka Kematian Neonates (Neonatal Death Rate)
*     Angka Kelahiran Mati (Fetal Death Rate)

       FDR = (intermediate + late death) / (jumlah bayi lahir hidup + intermediate + late date)
              intermediate death : usia kehamilan antara 20 miggu s/d 28 minggu.
              late death : usia kehamilan > 28 minggu

*     Angka Kematian Pasca Bedah Operasi (Post Operative Death Rate)

       PODR = Jumlah Kematian Pasca Bedah Operasi / Jumlah Pasien Bedah Operasi

*     Angka Kematien karena Anestesi (Anaesthesia Death Rate)

       ADR = jumlah Kematian karena Anestesi / Jumlah Pasien mendapat Anestesi

Pengolahan Data di Unit Rekam Medis

Pengolahan data pasien rawat jalan

*     Jumlah Pengunjung, dari unit pendaftaran pasien, terkelompok pengunjung baru dan lama.
*     Jumlah Kunjungan, dari unit pendaftaran pasien, terkelompok kunjungan baru dan lama.

Pengolahan data pasien rawat darurat

*     Jumlah Pengunjung.
*     Data Morbiditas pasien rawat darurat.

Pengolahan data pasien rawat inap

*     Data pasien rawat inap, dari sensus harian rawat inap, terkelompok dalam pasien awal bulan, pasien masuk, pasien keluar hidup, pasien keluar mati (48 jam dan lebih), jumlah lama dirawat, jumlah pasien akhir bulan dan jumlah hari perawatan.
*     Data Morbiditas pasien rawat inap
*     Data Pasien Bedah Operasi
*     Data Pasien Melahirkan

Pengolahan data penunjang medis

*     Data kegiatan radiologi, radiodiagnostik, radiotherapi, kedokteran nuklir dan pencitraan (imaging).
*     Data pemeriksaan laboratorium, patologi klinik, patologi anatomi dan toksikologi.
*     Data pelayanan khusus, EEG, EKG, hemodialisa, rehab medik, pungsi, dan lain-lain.
*     Data kegiatan farmasi, pengadaab stok barang, penulisan dan pelayanan resep.
*     Data kegiatan keluarga berencana.
*     Data kegiatan penyuluhan kesehatan.
*     Data kegiatan kesehatan gigi dan mulut.
*     Data kegiatan transfusi darah.
*     Data kegiatan kebidanan dan perinatologi.
*     Data kesehatan jiwa.
*     Data kunjungan rumah.
*     Data pendidikan dan latihan.
*     Data bedah mata.
*     Data penanganan penyalahgunaan napza.
*     Data kegiatan bayi tabung.
*     Data cara pembayaran.
*     Data kegiatan rujukan.

       Disampaikan contoh data sensus berikut ini.
              Pasien masuk               :   2.000 pasien
              Pasien keluar               :   1.500 pasien
              Pasien keluar hidup               :   1.000 pasien
              Pasien keluar mati kurang dari 46 jam   :   200 pasien
              Pasien keluar mati kasus kehamilan       :   50 pasien
              Pasien keluar hidup kasus kehamilan     :   200 pasien
              Kematian bayi lebih dari 28 hari       :   60 bayi
              Kematian bayi usia 0 - 28 hari       :   20 bayi
              Jumlah kelahiran bayi       :   250
              Jumlah lahir mati               :   30
              Pasien keluar usia 0 - 1 tahun       :   220 bayi

       Dari contoh data sensus, bagaimana angka mortalitas-nya?, maka angka mortalitas yang terjadi.
              CDR =   (500 / 1500) * 100
              NDR =   (300 / 1500) * 100
              MDR =   (50 / 250) * 100
              IDR =   (60 / 220) * 100
              FDR =   (30 / 250) * 100
              NDR =   (20 / 250) * 100

Angka Morbiditas (kesakitan)

Pengukuran angka kesakitan di masyarakat, relatif lebih sulit dibandingkan dengan pengukuran vital event, dan perlu diperhatikan beberapa hal yaitu :
*     Jumlah orang yang menderita sakit.
*     Lama sakit berlangsung.
*     Jumlah orang yang pernah sakit.
*     Jumlah penduduk yang memiliki resiko tinggi tertular penyakit.

Cara mengukur angka morbiditas, yaitu :

Incidence Rate

Merupakan frekwensi penyakit baru yang berjangkit dalam masyarakat, di suatu tempat atau wilayah atau negara pada waktu tertentu.

      Incidence Rate = ( KB / PR ) * 1000

Keterangan :
      KB - Jumlah penderita penyakit tertentu (kasus baru)
      PR - Population at Risk atau Jumlah penduduk yang memiliki resiko tertular penyakit sama

Prevalence Rate

Merupakan frekwensi penyakit lama dan baru yang berjangkit dalam masyarakat di suatu tempat atau wilayah atau negara pada waktu tertentu.

Prevalence rate ditentukan periode saat kejadian, misalnya :
*     Pada September 2001, maka disebut sebagai Point Prevalence Rate.
*     Jika 1 September 1991 s/d 31 Oktober 1991, maka disebut Periode Prevalence Rate.

      Prevalence Rate = (KS / PR) * 1000

Keterangan
      KS = Jumlah penderita (kasus baru dan lama) pada suatu saat atau periode tertentu.
      PR = Population at Risk atau Jumlah penduduk yang memiliki resiko tertular penyakit sama

Istilah dalam Statistik Rumah Sakit

Pengunjung adalah setiap kedatangan pasien ke rumah sakit, untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

Kunjungan atau Attendance adalah setiap kedatangan pasien ke salah satu unit kerja rumah sakit, untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

Misalnya seorang pasien data ke rumah sakit, berobat ke Poliklinik Penyakit Dalam, selanjutnya dipersilahkan periksa darah di Laboratorim, sebelum akhirnya dirujuk ke Poliklinik Penyakit Jantung.
      Artinya data statistik rekam medis dicatat sebagai berikut :
            Angka Pengunjung =   1
            Angka Kunjungan =   3
                  Kunjungan Poli Penyakit Dalam =   1
                  Kunjungan Laboratorium         =   1
                  Kunjungan Poli Jantung =   1

Pendaftaran Pasien atau Admission adalah proses resmi yang dialami seseorang, untuk diterima dan akan menerima pelayanan kesehatan rumah sakit.

Pasien Keluar atau Discharge adalah proses formal keluarnya seorang pasien rawat inap, setelah mendapatkan pelayanan kesehatan rumah sakit.

Tempat Tidur yang tersedia atau Bed Count atau Available Beds atau Bed Complement adalah jumlah tempat tidur yang tersedia, untuk siap dipergunakan sewaktu-waktu untuk pelayanan rawat inap. Jumlah ini merupakan jumlah bed terpakai dan jumlah bed kosong. 
Bassinet (tempat tidur khusus bayi baru lahir), dihitung terpisah dari tempat tidur biasa.
Tempat Tidur di Ruang Pemulihan (recovery room), Tempat Tidur di Ruang Persalinan, Tempat Tidur di Ruang Tindakan, tidak dihitung sebagai Tempat Tidur tersedia.

Pasien Rumah Sakit atau Hospital Patient adalah meliputi seluruh pasien rawat jalan dan pasien rawat inap.

Pengertian Rawat Inap

Pasien Rawat Inap atau Inpatient adalah seluruh pasien yang menggunakan fasilitas tempat tidur, untuk tujuan mendapatkan pelayanan kesehatan rumah sakit.

Pengertian Rawat Jalan

Pasien Rawat Jalan atau Outpatient adalah seluruh pasien yang tidak termasuk dalam pasien rawat inap.

Semoga bermanfaat.

New Links on MedlinePlus

How long do menopausal symptoms last in most women? Longer than you may think, according to a new study.
The researchers included more than 1,400 women involved in a national health survey on menopausal transition. All were between 42 and 52 years old at the start and reported frequent hot flashes and night sweats. The participants were followed for more than a decade, and the results showed that, on average, total duration of symptoms was 7.4 years.
medlineplus medical encyclopedia

Bahasa pemrograman dalam kategori low level language

Bahasa program low-level berbasis kinerja digital input, dan assembler adalah salah satu bahasa pemrograman dalam kategori low level language, dipergunakan untuk berkomunikasi dan memberi perintah kepada komputer atau alat elektronik tertentu (digital input). Mengutip Wikipedia.org bahwa menurut tingkat kedekatannya dengan mesin komputer, bahasa pemrograman terdiri dari:
  • Bahasa Mesin, yaitu memberikan perintah kepada komputer dengan memakai kode bahasa biner, contohnya 01100101100110
  • Bahasa Tingkat Rendah, atau dikenal dengan istilah bahasa rakitan (bah.Inggris Assembly), yaitu memberikan perintah kepada komputer dengan memakai kode-kode singkat (kode mnemonic), contohnya [kode_mesin|MOV], SUB, CMP, JMP, JGE, JL, LOOP, dsb.
  • Bahasa Tingkat Menengah, yaitu bahasa komputer yang memakai campuran instruksi dalam kata-kata bahasa manusia (lihat contoh Bahasa Tingkat Tinggi di bawah) dan instruksi yang bersifat simbolik, contohnya {, }, ?, <<, >>, &&, ||, dsb.
  • Bahasa Tingkat Tinggi, yaitu bahasa komputer yang memakai instruksi berasal dari unsur kata-kata bahasa manusia, contohnya begin, end, if, for, while, and, or, dsb. Komputer dapat mengerti bahasa manusia itu diperlukan program compiler atau interpreter.
bahasa pemrograman dalam kategori low level language
Memperoleh kepercayaan memimpin divisi R&D (Research and Development), memaksa untuk kembali membongkar logika dalam menghadapi tantangan menghasilkan produk bermutu, tatanan logika selama ini terbentuk memang khusus menghadapi kebutuhan alur kinerja manajemen rumah sakit, dan kini dipaksa beralih memahami logika kinerja alat atau mesin. Sebelumnya menggunakan bahasa pemrograman high-level, kini harus mampu memahami bahasa pemrograman low-level yang hanya mengenal ON atau OFF (digital input) dari suatu alat atau mesin tertentu.

Tantangan menghasilkan produk bermutu berupa memenuhi keperluan SPBU, dengan inovasi berupa penyediaan fasilitas pembeli BBM melayani sendiri (swalayan - bayar dulu baru ambil bbm sesuai nilai bayar - nozle pompa berhenti keluarkan bbm secara otomatis), diberi nama proyek pekerjaan pengembangan aplikasi SPBU swalayan (development SPBU Self Service Application), dan sebagai pilot project dikhususkan hanya untuk kendaraan roda dua dulu.

Produk ini sudah tersedia di wilayah Indonesia Barat khususnya Jakarta, namun untuk wilayah Indonesia Timur belum ada, ilustrasi kronologi dapat dijelaskan dengan diawali pembeli BBM menyampaikan kebutuhannya kepada petugas SPBU yang telah dilengkapi alat cashier portable mobile (mesin kasir), petugas memilih salah satu pilihan harga pada menu pada layar touch screen, pembeli BBM membayar, dan selanjutnya menuju pompa nozle yang telah ditentukan dan mengisi tangki bbm. Sebagai resiko sosialisasi kedepan adalah mengantisipasi kondisi pembeli BBM yang belum membuka tangki BBM, tapi tangan sudah memegang nozle, atau bahkan telah menekan nozle dan tumpah.
low-level programming language

Tantangan program aplikasi ini terletak pada pemakaian touch-screen, kemudian dilanjutkan dengan sinyal output menuju local server (artinya ada tantangan komunikasi mesin kasir portable ke local server), local server ke alat kontrol (controller) yang tertanam di mesin tiket printer, controller bertugas mengontrol nozle pompa agar otomatis "hanya" mengeluarkan jumlah liter tertentu kemudian berhenti, selanjutnya apabila pembeli BBM ingin mencetak bukti pembelian, bisa tekan tombol di mesin tiket printer, untuk mencetak bukti transaksi pembelian BBM.

Program SPBU Self Service Application, membutuhkan keahlian penguasaan bahasa pemrograman tingkat rendah (low-level programming language) agar dapat melakukan komunikasi antar alat, monitoring dan pekerjaan kontrol kinarja alat (controlling). Kebutuhan tenaga kerja bidang ini adalah mereka yang memiliki latar belakang pendidikan elektronik dengan bekal pemahaman low-level programming.

Diluar sana sudah banyak yang merambah peluang pekerjaan ini, bahkan dalam perkembangannya tehnologi robotik terus menunjukkan geliat wujud nyata, dan Indonesia telah banyak menghasilkan karya bidang "aneh" ini, walaupun masih berjalan dengan silent (diam-diam), sangat hebat apabila pemerintah memberikan dorongan untuk produk inovasi berupa kemampuan kami untuk membuat alat otomatis pemantau pelanggaran lalu lintas, monitoring pengemudi kendaraan (semacam blackbox pesawat), peniadaan gerbang pintu tol (toll gate), peniadaan kasir di pusat perbelanjaan (artinya pengunjung mengisi kantong belanjaan dengan ragam keperluannya, dan kantong otomatis memberikan informasi kumulatif harga barang, kemudian saat memasuki area pembayaran dipersilahkan konfirmasi, selanjutnya nilai kartu member terdebet sesuai nilai belanja.

Untuk lebih mudah lagi ... bagaimana apabila kami mampu menghapus token listrik rumah Anda, diganti dengan fasilitas melalui handphone atau smartphone?, bayar rekening listrik via ATM, atau beli pulsa listrik masih harus naik kursi untuk memasukkan nomor kode pulsa?, bagaimana jika saat listrik padam karena kehabisan pulsa, cukup masukkan ID pelanggan dan nilai pulsa yang dibeli, begitu transaksi OK, listrik rumah Anda menyala kembali.

Mengantisipasi kebutuhan tentang catatan perkembangan penyakit pasien yang dapat dipantau oleh dokter dimanapun berada, merupakan ambisi kami untuk memberikan manfaat canggih memenuhi kebutuhan rumah sakit berwawasan global.

Bekerja ditengah kawula muda bertalenta masa depan, terkadang membuat iri hati tentang jaman saat muda dulu dimana teknologi masih sangat terbatas, majulah Indonesia, dan mari kita berusaha memahami dengan menyaksikan sasaran tujuan mengapa kami berusaha menggali potensi prospek bahasa program low-level berbasis kinerja digital input, yang dapat digambarkan dalam video dibawah ini.

Tantangan prospek pemasaran global rumah sakit

Bisnis usaha jasa pelayanan kesehatan masyarakat, semakin bertambah dan dipastikan semakin ketat persaingan didalamnya, bagi jiwa pemenang tentu membekali diri dengan menerapkan teknik strategi pemenangan untuk menjadi terbaik adalah komponen yang harus dan patut diperjuangkan. 
teknik strategi pemasaran

Diantara teknik strategi pemasaran global rumah sakit, adalah menjadikan perangkap (sesuatu yang menakutkan) menjadi peluang, tantangan, dan sekaligus prospek, antara lain :


Melupakan kegagalan.

Basis pasar ditentukan oleh permintaan dan persaingan, dan kondisi prospek masa datang tidak akan pernah sama, dengan masa yang telah lalu. 

Menyikapi para pesaing.

Memperlakukan mereka sebagai rekan sejawat akan jauh lebih baik untuk bersinergi saling melengkapi. 

Kearifan lokal.

Banyak ditemukan satu pasien dengan jumlah kerabat yang menunggu dalam perawatan, dianggap sebuah gangguan dan beban operasional. Padahal apabila disikapi sebagai kesempatan peluang promosi, akan jauh lebih menguntungkan.

Penetapan harga.

Acuan penetapan harga berwawasan memiliki nilai tambah, dengan prospek perhitungan biaya lebih rasional.

Ekspansi pasar.

Tidak mengabaikan sasaran pasar, dan kemampuan rumah sakit, serta diperlukan persiapan dengan tambahan wawasan bahwa hasil tidak bisa dinikmati dalam waktu singkat, karena membutuhkan waktu proses.

Rekan bisnis.

Intinya tidak malah menjadi beban rumah sakit, bisa perorangan, kelompok atau perusahaan, dengan manfaat pengembangan prospek masa datang.

Integritas.

Jejak rekam bisnis tanpa ada riwayat merugikan pihak lain.

Pariwisata kesehatan.

Beberapa penyakit memungkinkan untuk disinergikan dengan pariwisata, membangun paradigma mengurangi masyarakat Indonesia berobat keluar negeri (harus bisa lebih baik dari rumah sakit luar negeri), dan paradigma menarik pasien luar negeri untuk berobat di Indonesia (harus menunjukkan mutu yang lebih baik dari rumah sakit luar negeri).

Sarana Prasarana.

Kecanggihan fasilitas alat kesehatan, tetap tidak mengurangi sisi pelayanan kesehatan secara manusiawi.


Follow my blog with Bloglovin

Manfaat Standarisasi Sistem Informasi Rumah Sakit

Lingkup permasalahan standarisasi sistem informasi rumah sakit, dengan batasan cakupan permasalahan pada induk perusahaan yang memiliki anak cabang perusahaan dengan bidang bisnis usaha penyediaan fasilitas jasa pelayanan kesehatan masyarakat atau biasa dikelompokkan sebagai grup bisnis usaha jasa rumah sakit.

Tingkat kompleksitas permasalahan induk perusahaan yang harus mengelola bisnis usaha dari seluruh anak cabang dengan lokasi geografis yang tersebar, diperlukan strategi jitu agar pengelolaannya dapat dipertanggungjawabkan secara terukur dengan akurasi kebenaran mendekati sempurna, dan hal ini merupakan pekerjaan tidak mudah, tidak murah, diperlukan banyak strategi kebijakan agar menemukan manfaat efisiensi biaya dan efektifitas kinerja yang seragam di semua level jabatan dari semua unit usaha.


manfaat standarisasi sistem informasi rumah sakit
Seperti halnya permasalahan standarisasi operasional pada grup bisnis jasa retail (seperti Carrefour, Matahari, Gramedia, Indomart, Alfamart, Alfamidi, dan lain-lain), atau pada grup bisnis jasa perbankan (seperti BCA, BRI, Mandiri dan lain-lain), atau grup bisnis jasa perhotelan (seperti Hilton, Sheraton, Accor, Aston, Hyatt, dan lain-lain), atau grup bisnis jasa telekomunikasi (seperti telkom, indosat, XL, dan lain-lain), atau grup bisnis jasa transportasi (seperti lion, garuda, lorena, dan lain-lain), pertanggungjawaban pengelolaan bisnis usaha secara terukur, merupakan kewajiban mutlak yang harus tersedia, untuk mengukur prestasi jajaran manajemen pengelola bisnis usaha.

Kondisi pertanggungjawaban secara terukur, sangat ditentukan dengan adanya informasi data kinerja operasional di semua tingkat jajaran manajemen, sesuai bidang profesi pekerjaan pada semua sub unit kerja pada semua unit cabang bisnis usaha. Akurasi informasi data kinerja operasional, sangat ditentukan oleh alat bantu operasional atau biasa disebut sistem aplikasi yang diberlakukan. Pemberlakuan pemakaian alat bantu operasional yang berbeda, dapat menimbulkan permasalahan pada saat harus dilakukan migrasi rekapitulasi ke induk perusahaan, setidaknya menghabiskan waktu kerja dan hal itu melanggar azas efektifitas kinerja perusahaan.

Keperluan standarisasi sistem aplikasi merupakan kewajiban mutlak yang harus dimiliki induk perusahaan, terhadap semua cabang bisnis usaha yang dikelolanya, dan faktor krusial lain adalah tentang kepemilikan sistem aplikasi tersebut, pengelolaan sistem aplikasi yang masih memiliki ketergantungan pada vendor, merupakan kendala yang terus akan menggerogoti budget perusahaan. Menemukan sistem aplikasi yang cocok untuk memenuhi kebutuhan operasional bisnis usaha, tentu sangat tidak mudah, dan tantangan membangun sistem aplikasi di internal perusahaan, tentu sangat tidak murah.

Dari semua induk grup jasa yang ada, terdapat kesamaan hanya pada sub modul sistem informasi pengelolaan stok barang, hal lain adalah kemiripan pada sub modul sistem informasi keuangan, sementara untuk sektor pelayanan lain jelas sangat berbeda, Keunikan tersendiri bagi grup jasa penyedia fasilitas pelayanan kesehatan, atau grup jasa bisnis usaha rumah sakit, selain mengandung semua unsur diatas, masih terdapat satu unsur lain yang tidak dimiliki grup jasa lainnya, yakni unsur atau fasilitas pengelolaan data medis. 

Dinamika kompleksitas permasalahan tertinggi, terdapat pada grup jasa penyedia fasilitas kesehatan masyarakat, karena fasilitas kebutuhan dasar kehidupan masyarakat, tidak pernah luput dari adanya perubahan kebijakan pemerintah, dan ketersediaan alat bantu operasional dengan fleksibilitas penyesuaian kebutuhan operasional karena adanya perubahan kebijakan, merupakan penentu nilai kwalitas dari alat bantu operasional bisnis usaha tersebut.

Salah satu alat bantu operasional bisnis usaha penyedia fasilitas kesehatan masyarakat, adalah berupa sistem informasi rumah sakit. Standarisasi pemberlakuan sistem informasi rumah sakit di seluruh jajaran grup bisnis usaha rumah sakit, merupakan tolok ukur tersendiri bagi kwalitas kinerja grup perusahaan, karena unsur kesamaan pemahaman atas permasalahan operasional, terjadi merata di semua level jajaran manajemen di lapangan, sehingga pemecahan permasalahan dapat diselesaikan tanpa melanggar azas efisiensi dan efektifitas kinerja perusahaan.

Unsur utama standarisasi pengelolaan data operasional hingga menjadi informasi akurat, yang mengacu azas efisiensi dan efektifitas, merupakan penentu kwalitas motor penggerak kinerja grup perusahaan, dan semua persaingan ketat terhadap peluang besar yang tersedia, pemenangnya sangat ditentukan oleh pengemudi dan kwalitas motor penggeraknya.

2018 - Industri Kesehatan akan tembus Rp. 600 triliun

Analisa Frost & Sullivan, pada tahun 2018 bisnis bidang industri jasa pelayanan kesehatan di Indonesia, diperkirakan akan menembus angka $ 60 miliar, atau setara Rp. 600 triliun.
Belanja kesehatan akan terus tumbuh seiring meningkatnya permintaan pasien untuk pelayanan kesehatan yang lebih baik", ungkap Hannah Nawi, Associate Director, Health Care Practice, Asia Pacific Frost & Sullivan.
industri pelayanan kesehatan
Seperti diketahui, di Indonesia, populasi penduduk yang berusia 28 tahun dan kelompok usia diatas 35 tahun di perkirakan akan tumbuh lebih cepat pada periode 2010 - 2014. Karena itu, pemerintah Indonesia bakal berusaha untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap jaminan pelayanan kesehatan, salah satunya dengan skema asuransi kesehatan, seperti Askes yang telah berubah menjadi BPJS Kesehatan, dan Jamsostek yang berubah menjadi BPJS Ketenagakerjaan. Hal ini dilakukan untuk meringankan beban institusi kesehatan pemerintah yang mengalami keterbatasan sumber daya akibat jumlah pasien yang meningkat.

Berkaca pada fakta yang ada di lapangan, industri kesehatan di Indonesia masih memiliki potensi yang sangat besar. Kondisi itu membuka peluang besar bagi para pemain baru untuk masuk ke industri ini, khususnya di industri rumah sakit. Selain rumah sakit, alat-alat kesehatan yang telah mampu mengadopsi teknologi terkini, juga memiliki peluang yang sangat besar.

Apakah peluang besar tersebut, menarik minat Anda untuk ikut menjadi pemain didalamnya?, dan tentu Anda membutuhkan rekan kerja yang telah memiliki pengalaman panjang dalam memberikan pelayanan konsultasi, bagaimana memulai untuk berencana membangun industri rumah sakit baru, hingga mewujudkannya.

Mengenal lebih jauh tentang IP Address

Sebuah komputer yang terhubung melalui jejaring koneksi antar komputer dalam suatu area tertentu, dipastikan memiliki identitas unik yang berfungsi sebagai pengenal diri yang berbeda antara satu komputer dengan komputer lainnya, dan identitas unik komputer tersebut dikenal sebagai IP Address, atau disebut sebagai Internet Protocol Address.

ipv4 address


Lingkup luas area jejaring koneksi, dapat mencakup hanya untuk internal sebuah unit kerja (LAN-Local Area Network), atau terkoneksi secara global yang biasa disebut jaringan internet, yang merupakan jejaring komputer terbesar, dengan kumpulan jutaan IP Address yang digunakan.

IP Address sebuah komputer yang terhubung dalam internet, memungkinan komputer lain mengetahui lokasi komputer tersebut, memiliki kemiripan seperti alamat rumah. Saat ini ada dua jenis IP Address yang digunakan, yaitu IPv4 address dan IPv6 address.

ipv6 addressIPv4 menggunakan pengkodean 32 bit, namun karena perkembangan pertumbuhan pengguna internet semakin pesat, maka ketersediaan space IP Address jenis IPv4 semakin menipis, dan secara bertahap segera akan digantikan oleh IP Address jenis IPv6 yang menggunakan pengkodean 128 bit.

Penampilan fisik IP Address diwakili kode angka biner yang terdiri satuan bit, yang telah diubah dalam bentuk desimal agar mudah dikenali, seperti jenis IPv4 address (101.78.89.109) dan jenis IPv6 address (2000:df8:0:234:0:239:3:58).

LIS - Laboratory Information System

"Migrasi antar database LIS (Laboratory Information System) and HIS (hospital Information System).", Integrating HIS to LIS.

Salah satu fasilitas sebuah sistem informasi manajemen rumah sakit, adalah harus mampu melakukan komunikasi antar database, karena fasilitas tersebut merupakan kebutuhan pokok operasional agar bisa mendukung tugas dan fungsi pelayanan.
Integrating HIS to LIS
Integrating HIS to LIS

Kebutuhan untuk mendukung tugas dan fungsi pelayanan, salah satu diantaranya adalah agar bisa memberikan kemudahan bagi operator lapangan, dalam hal ini adalah para petugas unit kerja penunjang medis, yakni unit kerja laboratorium.

Sangat merepotkan apabila petugas laboratorium, harus melakukan pekerjaan berulang, manakala jika akan memberikan masukan tentang identitas kunjungan pasien, mereka harus melakukan hal yang sama untuk menjalankan sistem lain.


Didalam unit kerja laboratorium, secara umum dipastikan ada sistem informasi yang khusus menangani proses pemeriksaan bahan olah, untuk diproses hingga hasil akhir berupa laporan  hasil pemeriksaan bahan olah tadi, bahan olah tersebut bisa berupa darah, fases, urine, atau bahan lain yang diambil dari tubuh pasien.

Sistem aplikasi yang menyatu dengan mesin pemeriksaan pada unit kerja laboratorium ini, biasa dikenal sebagai Laboratory Information System (LIS), sementara sistem aplikasi yang biasa digunakan rumah sakit untuk membantu operasional harian secara keseluruhan, biasa dikenal sebagai Hospital Management Information System (HMIS), atau Hospital Information System (HIS).

Keduanya untuk di Indonesia saat ini, dalam kondisi terpisah dan ditangani oleh vendor yang berbeda pula, namun tersedia dipasar bahwa Hospital Management Information System yang didalamnya sudah terdapat Laboratory Information System, namun biaya untuk melakukan investasi pengadaannya sangat mahal.

Keterpisahan dua sistem aplikasi, tentunya akan menjadi problem masalah bagi para operator lapangan, dalam hal ini petugas laboratorium, apabila harus melakukan dua kali proses input data kunjungan pasien, pada dua sistem aplikasi yang berbeda tersebut, dan apabila dijabarkan keduanya adalah ;
  • Didalam HIS, sudah ada data kunjungan pasien, namun harus di entry ulang pada sistem LIS, agar data hasil pemeriksanaan dapat dilaksanakan.
  • Setelah proses pengolahan pada sistem LIS, data hasil pemeriksaan harus di entry ulang pada sistem HIS, agar bisa diakses oleh unit kerja terkait yang membutuhkan data hasil pemeriksaan tersebut.
Untuk menjembatani kedua sistem aplikasi tersebut, tentunya muncul kebutuhan baru untuk dilakukan proses migrasi antar database, dimana sistem LIS harus bisa membaca database HIS, demikian pula sebaliknya sistem aplikasi HIS, harus bisa membaca database LIS, sehingga tercapai NIHIL faktor human error saat pelaksanaannya.

Dalam pelaksanaannya, PT. Sysmex Indonesia (wilayah operasional Indonesia Timur yang bermarkas di Surabaya) sebagai vendor sistem LIS, dan merupakan pemasok terbesar di dunia instrumentasi hematologi, yang menyediakan alat uji laboratorium dan reagen, bersama dengan marsonline sebagai vendor HIS, telah berhasil melakukan kerjasama menyediakan fasilitas migrasi antar database LIS dan database HIS, dan dengan demikian fasilitas migrasi database, dapat dioperasionalkan sehingga tujuan akhir berupa NIHIL human error dapat tercapai.

Sebagai ilustrasi dari fasilitas tersebut adalah, bahwa sistem LIS mampu membaca data kunjungan pasien laboratorium, yang disediakan sistem HIS, dan setelah proses pengolahan bahan olah reagen, maka database hasil pemeriksaan LIS, mampu dibaca untuk dijadikan bahan laporan baik dalam bentuk tampilan layar ataupun dicetak, oleh sistem HIS.

"Sysmex is the world’s largest supplier of hematology instrumentation. We provide laboratory testing instruments and reagents, as well as after-sales support, to medical institutions in more than 160 countries around the world."

"Sysmex offers a broad range of diagnostic products in the hematology, hemostasis, urinalysis, chemistry and life science fields. These products are completed by an innovative suite of systemization and information technology solutions for healthcare organizations."


Semoga bermanfaat.
Delicious Save this on Delicious

Query SQL ke Excel lewat Visual Basic

relational database tutorial for beginners | Query SQL ke Excel lewat Visual Basic

Memenuhi kebutuhan operasional rumah sakit, tidak sederhana dan tidak mudah, latar belakang kecanggihan sebuah sistem, apabila tidak bisa menjawab kebutuhan operasional, hanya berakhir menjadi sebuah beban dari para operator lapangan.

Pekerjaan implementasi sistem komputer pada sebuah institusi rumah sakit, harus mampu memahami alur kinerja yang berlaku, tidak sekedar memiliki kemampuan programming semata, melainkan juga harus mampu dalam rancang bangun database yang bisa memasok kebutuhan jangka panjang operasional rumah sakit, dan setidaknya juga harus mampu mengantisipasi munculnya kebutuhan baru kelak kemudian hari.

Seperti diketahui secara umum bahwa fasilitas excel yang fleksible terhadap beragam kemudahan dalam mengolah data transaksional menjadi beragam rekapitulasi dengan kebutuhan sesaat bersifat mendadak, dan atau kebutuhan periodikal, menjadikan excel sebagai tumpuan fasilitas yang harus dikuasai oleh para pengolah data di unit back office, seperti unit kerja pengelola stok barang dan pengelola keuangan rumah sakit.

Suka atau tidak suka maka sistem informasi rumah sakit, yang mampu menyediakan format output dalam bentuk file excel, menjadi sebuah tuntutan yang harus dapat dipenuhi.

Sebagai hal mengejutkan ternyata bahwa hasil keluaran atau output dari suatu query database sqlserver, yang langsung otomatis dalam format file excel, merupakan sebuah kesulitan tersendiri bagi para programmer database kawakan sekalipun.

Kalaupun ada query sql dengan output format file excel, ternyata tidak otomatis hasil proses keluaran, melainkan ada step penanganan tersendiri, hingga menjadi format file excel., dan atau hasil query sql di copy paste ke worksheet excel, yang artinya tetap harus ada tahapan sebelum menjadi format file excel.

Dari keterkejutan diatas, maka materi berikut sedikit mengupas tentang tehnik output query yang langsung otomatis menghasilkan file format excel, dengan judul kolom yang dapat diatur oleh kemampuan hebat dari visual basic.

Sebagai seorang programmer visual basic mengaktifkan component microsoft excel object library agar bisa menjadi reference programming, tentunya tidak ada kesulitan, dilanjutkan dengan menuliskan script programming, berikut ini :



Jadi intinya adalah bahwa hasil query dimasukkan ke area array yang dipersiapkan ( besar kecilnya sangat tergantung kemampuan memory ), berikut dengan judul kolom masing-masing field yang disertakan dalam query.

Selanjutnya hasil query yang tersimpan sementara pada array dipindahkan ke object worksheet yang sebelumnya telah dipersiapkan.



Pemasangan judul kolom, dengan kemampuan yang pernah kami buat sebanyak 110 kolom dengan jumlah record data operasional harian berkisar 7.000 sampai dengan 9.000 record atau baris, yang terbagi dalam beberapa jenis pelayanan yang tersedia di rumah sakit bersangkutan.

Dengan diakhiri perintah program visual basic berikut ini, berupa object excel visible true, maka output atau keluaran data hasil query SQL bisa tampil dalam format file excel, yang sudah tertata rapi, lengkap dengan judul kolomnya.



Selamat mencoba dan semoga bermanfaat.

Emergency Response System

Materi judul yang diangkat kali ini, memang terlalu besar lingkup permasalahannya, dikarenakan banyak faktor ruang lingkup penanganan pelayanan kondisi darurat dari beragam suatu kasus bisa dikelompokkan sebagai kasus darurat yang memerlukan penanganan yang bersifat darurat.
emergency response system
emergency response system

Untuk memperkecil lingkup permasalahan kasus darurat, maka materi artikel kali ini hanya mengangkat persoalan penanganan pelayanan darurat dari unit kerja rawat darurat sebuah rumah sakit, agar manajemen rumah sakit memiliki ukuran target standar yang harus dicapai, agar efektifitas pelayanan rawat darurat rumah sakit bisa diukur.

Ketersediaan alat bantu yang bisa menghitung step by step penanganan pelayanan rawat darurat sangat dibutuhkan, untuk mengukur kinerja operasional sebuah unit kerja rawat darurat rumah sakit bersangkutan.

Alat bantu bisa berupa sub sistem dari sebuah modul operasional yang terpasang dan telah terintegrasi pada unit komputer dari unit kerja rawat darurat rumah sakit, catatan response time bisa diawali dari datangnya informasi tentang kondisi darurat, dan atau datangnya kunjungan pasien yang membutuhkan pelayanan darurat.

Secara sederhana dapat digambarkan, dengan kronologi dari jam, menit dan detik awal mulai datang informasi penanganan pelayanan rawat darurat, dilanjutkan dengan jam, menit, detik penanganan medik yang dilakukan oleh tim medik, dari kedua kondisi diatas akan diperoleh nilai waktu response time, berupa informasi berapa lama tingkat tanggap darurat dari tim medik didalam menanggapi sebuah kebutuhan pelayanan rawat darurat.


Setelah memperoleh penanganan medik, apabila tim medik membutuhkan pemeriksaan penunjang medik, maka akan diperoleh tingkat kebutuhan waktu, berupa berapa lama waktu yang dibutuhkan sejak penanganan medik dilakukan, hingga waktu melakukan order pemeriksaan penunjang medik.

Dari order pemeriksaan penunjang, hingga diperoleh hasil pemeriksaan penunjang medik, akan diperoleh tingkat kebutuhan waktu tim penunjang medik, didalam tugas fungsinya membantu menyediakan hasil akurat pemeriksaan, sebagai penunjang pelayanan rawat darurat.

Hasil pemeriksaan penunjang medik, menjadi landasan terbitnya diagnosis kondisi penyakit pasien, therapi medik dan tindakan medik lanjutan yang akan dilakukan oleh tim medik pelayanan rawat darurat.

Tindakan medik lanjutan tergantung diagnosis, therapi dari para operator penanganan pelayanan medik, apakah dilanjutkan dengan bedah operasi, atau masuk perawatan khusus atau masuk rawat inap, dan atau dinilai cukup dan dirujuk ke insitusi pelayanan medik yang lebih baik dan lengkap fasilitas sarana dan prasarananya, dan atau malah bisa dipulangkan, kesemuanya tergantung kasus dan kondisi pasien.

Kesimpulan emergency response time system, memberikan manfaat berupa informasi kinerja terukur dari sebuah unit kerja pelayanan rawat darurat rumah sakit, dan hal ini juga dapat diimplementasikan pada unit pelayanan rawat jalan, sehingga manajemen rumah sakit memiliki kontrol kinerja terukur dari dua unit kerja pelayanan medik, dua unit kerja yang merupakan ujung tombak pelayanan rumah sakit.


personal emergency response system
personal emergency response system
Sebagai kelengkapan dari Emergency Response System, diantaranya harus dilengkapi dengan panduan manual berupa standard operasional prosedur, yang harus telah dipahami oleh semua operator lapangan.

Saat ini telah populer tentang Personal Emergency Response System (PERS), yang mampu menghubungkan kasus darurat dengan informasi medik pasien bersangkutan, dan tentunya membutuhkan infrastruktur yang tidak mudah dan tidak murah, bagi sebuah rumah sakit yang ingin berinvestasi untuk menangkap peluang besar ini.

Contoh kasus diatas hanya dengan lingkup sebuah unit kerja rumah sakit, akan semakin meningkat kompleksitasnya apabila emergency response system, yang diimplementasikan untuk penanganan tanggap darurat yang dipersiapkan untuk mengantisipasi adanya kejadian kebakaran atau bencana alam, yang tentunya akan melibatkan banyak institusi terkait, baik penanganan evakuasi, pengamanan wilayah bencana, dan penanganan sosial berikut dengan kebutuhan hidup dari para pengungsi.

Semoga bermanfaat.